Sepenggal Kisah Samita
Di dalam ruangan berukuran 3x4 meter itu banyak buku, handout, dan kertas-kertas bertebaran. Laptop berwarna putih itu mengeluarkan suara nyanyian-nyayian pop, nasyid, dangdut, sunda, bahkan sampai lagu india. Botol air mineral 600 ml di samping laptop putih itu telah kosong, menyisakan kehampaan. Diantara "keramaian" ga jelas itu semua, ada seorang gadis manis semester akhir di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung, yang sedang berkutat dengan catatan dan laporan-laporannya.Lagi-lagi dia membetulkan letak kacamatanya, menguap, menggosok matanya. Kelihatannya dia sangat kelelahan. Bantal, guling dan kasur bergambar winnie the pooh itu sangat-sangat menggodanya. "Ahhh.... jangan dulu." Ucapnya lirih. Padahal jam weker silver itu sudah menunjukan pukul 2 pagi. Itu semua dia lakukan karena suatu hal yang sangat penting dalam salah satu episode hidupnya di kampus. Satu minggu lagi jadwalnya sidang PKL (Praktek Kerja Lapangan). Aplikasi web dan laporan nya masih belum beres.
***
Oya, gadis manis itu bernama Samita, yang berarti bintang. Ya, dia memang bagaikan bintang yang selalu menyinari orang-orang terdekatnya dengan keceriaan dan kebawelannya. Tapi terkadang ketika sinarnya sedang tertutup awan mendung, suara keceriaan khas nya akan menghilang, tak akan terdengar sedikitpun. Ketika itu sedang terjadi, tempat ternyaman yang dapat memulihkan kembali keceriaannya adalah kamar berukuran 3x4 itu dengan berbagai "penghuni"nya.
***
15 menit berlalu setelah dia berkutat dengan kertas-kertas nya, samita kembali menatap si putih kembali. Ya, itu sebutan untuk laptop kesayangannya. Coding-coding php yang error masih membayanginya. Dengan tekun dia telusuri satu persatu setiap coding.
Running, error... Running, error... Running, succes. "Alhamdulillah....." Bibirnya membentuk senyum simpul. Ahhh...., tetap manis walau dengan mata lelahnya. Kini dia mulai meregangkan badannya, sepertinya dia sangat lelah. Akhirnya tanpa Ba Bi Bu, Samita langsung terjun ke kasur winnie nya. Memeluk guling abu-abu bermotif kartun, kemudian terlelap. Zzzzzzzzzzz.....
***
"Siapa penguji aku? Siapa??? Hey, lihat donk.... Fajar, siapa penguji kita???" Samita ikut nimbrung melihat ketas yang sedang dipegang oleh Fajar. Fajar adalah partner Samita selama PKL. "Mita...." Fajar berkata pelan sambil memperlihatkan muka kekhawatiran kepada Samita. "Penguji kita sama. Tapi......." Tiba-tiba Samita langsung menyela. "Alhamdulillah... Kalo sama. Yess!!!... Eh, tapi kenapa???" Samita ini selalu saja memotong pembicaraan orang tanpa permisi. "Tapi yang menguji kita Pak Rendy...."
Bumi ini seolah kehilangan gaya gravitasinya, kepala terasa berat, mata berkunang-kunang, kehidupan di sekitar seolah terhenti beberapa saat. Pak Rendy??? Ooohh.... tidak. Dosen yang paling dihindari hampir oleh setiap mahasiswa di kampus tersebut. Banyak berita yang beredar, akan sangat susah bisa dapat nilai "A" dari beliau. Boro-boro nilai A, bisa lulus saja sudah untung. Begitulah berita yang beredar. Samita cemas, takut-takut kalau nanti dia juga akan mengalami hal yang sama, seperti berita yang beredar selama ini. Sebetulnya Pak Rendy itu dosen masih muda, dan Samita pun sering diskusi dengan beliau. Karena beliau itu termasuk salah satu petinggi di kampus. Dan Samita salah satu petinggi di salah satu organisasi yang selalu berhubungan dengan beliau. Harusnya berita-berita itu, tak dicemaskan Samita. Tapi entah kenapa, dia terlihat begitu khawatir. Dalam pikirannya, ini kan bukan urusan organisasi, ini urusan sidang. Dia ga akan mudah ngeles untuk membela diri....
***
H-3 menjelang sidang. Bimbingan terakhir... Samita & Fajar menemui dosen pembimbingnya. Sebenarnya bukan bimbingan juga. Curhat yang ada. Curhat tentang kekhawatiran mendapatkan penguji Pak Rendy, yang terkenal "killer". Jarang mahasiswa yang bisa sukses jika berhadapan dengan beliau. Sang dosen pembimbing hanya tersenyum simpul mendengarkan curhatan Samita & Fajar. Ibu Widya, begitulah namanya. Beliau hanya berkata "Jangan terlalu mencemaskan pikiran-pikiran kalian. Semua itu baru di pikiran kalian, belum kalian alami sendiri. Yakinlah, kalian pasti bisa."
Harusnya kata-kata itu cukup untuk membuat hati Samita & Fajar tenang. Tapi entah kenapa, hati mereka tetap diselimuti rasa khawatir yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
***
Malam sebelum sidang....
Di kossan bercat hijau muda, lantai 2 kamar nomor 6. Di situlah tepatnya ruang 3x4 yang menjadi tempat Samita bersemedi, memikirkan apa yang harus dia lakukan di setiap episode kehidupannya. Tapi tidak untuk sekarang. Samita malah nongkrong depan tv bersama teman-teman penghuni kossan hijaunya. Nonton sinetron kesayangan mereka semua "Cinta Fitri". Penampilan aktor utama, Farel seperti menghipnotis mereka semua. Ahhh... Samita, tak apalah kamu rehat sejenak.
***
Hari H sidang....
Samita sudah siap dengan seragam hijaunya plus jasket kampus. Dia mulai mengabsen satu persatu apa yang harus dibawa. Tapi itu dia lakukan sambil nonton tv. Biasa, acara gosip di pagi hari.... "Laporan, aplikasi, seragam, sepatu pantopel, laptop..................." Mulutnya berkomat-kamit menyebutkan satu-satu apa yang dia perlukan. Tapi mata, pikiran dan hatinya sedang tertuju di acara gosip.
Setelah semua ia rasa siap. Saatnya capcus ke kampus....
***
Di depan ruang sidang. 2 jam sebelum giliran Samita & Fajar tiba. Mereka berdua telah bersiap-siap duduk di depan ruangan. Fajar mulai mengeluarkan kertas tebal berwarna kuning. Samita melirik.... Apa??? Itu kan form penilaian sidang. Samita mulai mengaduk-aduk isi tas nya. Ya ampun!!! Lupaaaaaaaaa..... "Fajar, tolong titip barang-barang aku ya. Form aku tertinggal. Lupa di bawa..." Tanpa menunggu Fajar memberikan jawaban, Samita langsung melesat menuju kossan. Jilbab hijaunya berkibar kemana-mana ketika lari.
30 menit kemudian.....
"Alhamdulillah...." Kini dia sudah duduk lagi di sebelah Fajar. "Mita, kue untuk pembimbing dan penguji sudah kamu ambil di toko kue yang kita pesan kemarin sore???" Gubrak!!! Langit serasa runtuh menimpa kepalanya saat itu juga. Samita menggigit bibir bawahnya, dan berkata sambil menyeringai aneh "Lupaaaa...."
"Ya ampunnnn.... bla bla bla...." Fajar ngomel-ngomel tanpa titik koma. Berhubung Samita lagi cape gara-gara lari tadi, dia hanya menanggapi omelan itu dengan seringaian anehnya lagi. "Yawdah, biar aku yang ambil. dasar ceroboh..." Fajar pun pergi. Dan Samita mulai mengatur nafasnya....
***
Di dalam ruangan sidang......
Muka sedikit pucat kemerahan, telapak kaki dan tangan dingin, dan hawa tiba-tiba terasa sangat panas. Dosen pembimbing mulai membuka sidang. Samita mulai presentasi laporan dan aplikasi web nya. 4 menit berlalu.... Hening.
Gambaran Aplikasi PKL Samita
"Ya Allah..., Pak Rendy ko diem aja. Ayo donk respon. Nanya ke, atau apa gitu. Garing nih..." Dalam hati tentunya Samita berkata seperti itu. "Ehem.... Samita, saya cuma minta, tolong kamu tambahkan konten bla.. bla.. bla.... Dan laporan PKL mu ini, tolong rapihkan bagian DFD Level 2 nya. Masih ada yang kurang di proses bla.. bla.. bla... Saya rasa cukup sidang untuk kamu hari ini"
Cesssssss...... Serasa ada angin sejuk datang, gravitasi bumi seolah kembali seperti semula, kepala dan hati mulai terasa ringan, serta telapak tangan dan kaki mulai hangat kembali. Apa ini??? Sudah?? Serius?? Pak Rendy sama sekali tidak menunjukkan muka jutek ataupun sangar. Tidak ada cercaan, hinaan, ataupun tekanan dari beliau. Beliau malah tersenyum. Sama seperti ketika aku berdiskusi dengannya masalah organisasi. Aku terpana beberapa saat. Bengong.....
"Sidang hari ini untuk Samita, saya tutup ..............." Entahlah ucapan bu Widya sudah tak diperhatikannya lagi. Yang ada di pikiran Samita sekarang adalah kelegaan, ploooooooonnggg banget. Nanti malam dia akan tidur nyenyak. Ehhh, engga. Dia sepertinya akan nonton film-film yang sudah dia kumpulkan beberapa waktu yang lalu.
Terbayar sudah kerja kerasnya selama PKL.... Nilai "A" sudah di tangan.
Hikmah dibalik cerita ini:
1. Jangan terlalu mengkhawatirkan atau mencemaskan masa depan ataupun hari esok. Karena itu masih suatu hal yang gaib. Yang terpenting lakukan yang terbaik hidupmu di hari ini. Itu akan mempengaruhi apa yang terjadi di masa yang akan datang.
2. Santai boleh, asalkan jangan terlalu santai ketika hari esok adalah hari penting dalam satu episode hidup kita. Persiapkan hal-hal yang berkepentingan dan jangan pernah menyepelekan hal-hal kecil.
3. Lakukan yang terbaik untuk segala hal.
Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp
35 komentar
Write komentarTerima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
ReplyArtikel anda akan segera di catat
Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya
Dosen tak perlu di takuti, kerjakanlah program aplikasi anda sendiri pasti menyenangkan, serius belajar APSi pasti lancar ERD dan DFD Atas stempel komandan blogcamp JURI datang menilai. Terima kasih atas cerita penuh hikmah, salam hangat
Replyhaha pengalaman PKL ya, perjuangan yang menegangkan hehe.. semoga menang ya dik
, saya juga mempunyai cerita di Pelayaran saya hehe
Replykeberanian itu kadang muncul dengan sangat kuat, ketika kita menghadapi rasa khawatir/ takut...
Replykarena rasa khawatir itu, adrenalin kita mengalir cepat, mendorong pikiran untuk mencari jalan keluar agar terlepas dari rasa itu.. namun pada kenyataan'a, kadang rasa takut itu muncul dari bayangan-banyangan di pikiran (yang sebenarnya belum terjadi)
*biasanya kita terpengaruh dari pendapat 'mayoritas' temen-temen. tentang kabar dalam cerita ini tokoh ( karakter pa Rendy) sebagai orang yang ditakuti dan di hindari. namun untuk meyakinkan diri sendiri, dan berani menghadapinya. pegang prinsip "seing is believing" melihat, baru memepercayai.... semangat... semoga menang di lomba...
@Shohibul K.U.C.B: Sama-sama.... Terimakasih sudah mau berkunjung ke blog saya yg sederhana ini...

ReplyYup, yup.... Salam hangat juga dari saya...
@JURI: Iyaaaaaa.... terimakasih atas saran dan kunjungannya...

ReplyYup, mulai sekarag saya juga sedang kembali memulai untuk memperdalam ilmu IT saya.
Semoga cerpen yang saya buat bisa bermanfaat dan diambil hikmahnya. Salam hangat...
@Kang aul: Ahhhh..... Kang aul nih, bisa saja. hahahahaha.....


ReplySiiipp, aku akan langsung ke TKP....
Terimakasih sudah berkunjung...
@Mas Zico: Iya mas... Ternyata tidak semua omongan orang itu langsung dipercaya. Buktikan dahulu oleh sendiri. Ya dengan persiapan tentunya. Siapa tau memang benar seperti itu adanya. Hehehehe....

ReplySiiipp... makasih ya mas. Sukses juga buat Mas Zico...
Betul sekali mbak Dalam syariat, memberi kesempatan kepada pikiran untuk memikirkan
Replymasa depan dan membuka-buka alam gaib, dan kemudian terhanyut dalam kecemasan-kecemasan yang baru di duga darinya, adalah sesuatu yang tidak dibenarkan. Pasalnya, hal itu termasuk thulul amal (angan-angan yang terlalu jauh)seperti dalam tulisanku dulu. http://www.berdaun.com/2010/11/biarkan-masa-depan-datang-dengan-sendirinya/
sipp.... (^.^)b
ReplySmg sukses saja.
ReplySelamat malam.
Salam hangat dari Medan!
jadi inget masa masa berkutat ma segala rumus rumus dan logika yang mbulet itu. tpi sekarang malah desaign grafis yang dulu gak aku suka yang jadi mata pencarianku. terus menulis, terus kasi inspirasi.....
Reply@Daun: Yup, yup.... terimakasih atas tambahan penjelasannya....

ReplySiipp, saya langsung ke TKP...
@Ari Kus: Thank's ya ri...
Reply@Situs Online: Aminnnnnn.... Terimakasih sudah berkunjung....

ReplyYup, salam hangat juga dari Jawa Barat..
@Muhammad Ridwan: hahahaha.... kadang apa yg ga kita suka jadi hal yg jadi takdir kita mas....
ReplyTerimakasih sudah berkunjung...
Ah, makin hari makin pintar nulis nenk. Saya takjub dengan tulisanmu ini, saya jadi ingin baca ulang2
(*jujur). Oia, "Boro-boro" kan bahasa sunda, bisa dimiringkan ga tulisannya atau dikasi tanda kurung yang isinya itu artinya. Selebihnya sangat mantap Nenk, tulisanmu sangat bertenaga. Percayalah 
Reply@Kang Qefy: Terimakasih akang atas semuanya..


ReplyOh boro-boro teh bahasa sunda ya? Tapi aku ga tau euy apa bahasa indonesia nya. Hahahaha.....
Yup, yup.... sekali lagi terimakasih kang...
So sweet, my girl..
ReplyYupz..that absoultely right..Human doesn't designed to worry for their life. The most important is do the best.And let Allah make it happen.
*me in dadigdug waiting to be disidang..hehehhe
Hmm... cerita yg menarik Riksa...
ReplyPersiapan yg matang.. adalah cara terbaik menyongsong masa depan..
Mg berhasil riksa..
╔═════════════════════════╗
Reply...║ HADIR MERAMAIKAN STATUS ANDA... ║
╚═════════════════════════╝
waaahhh ikut jugalah...mmmm menginspirasi banget...mmm saluutttt
Replymenarik
Reply@Teh Devi: Ahhhh..... teteh kau membuatku bingung. Aku sedang alergi bahasa inggris. Hahahaha....


ReplySiiiiiippp... setuju dengan teteh
Sidang memang selalu membuat mahasiswa deg-degan. hehehe...
@Secret Prayer: Terimakasih mas...

ReplyYup, betul, betul...
Aminnnnn....
Terimakasih sudah berkunjung mas...
@Manajemen Emosi: Terimakasihhhhhhh....
ReplyOra Jelas Asal'e & BLACKBOX: Terimakasih sudah berkunjung...
ReplyHihihi, ikut juga ya ni kontes, aku juga tapi belum daftar
ReplyMmm..bagus ceritanya. Sukses y bwt kontesnya sa^^
@Mba Wits: Iya mba, aku ikut. Hehehe...

ReplyHayu atuh mba wits daftar juga. Ditunggu ya cerpen karya mba Wits...
Aminnnn.... Sukses juga buat mba..
nambah satu lagi nih anak Bloofers yang ikutan kontes... sukses ya...
Replyhduh jadi keingetan sama tugas akhir saya wkwkw
Replysukses y..makasih sudh mengingatkan
@Lozz Akbar: Yup, aku ikutan... Siiipp, makasih mas..
Reply@Kang Ian: Wahh, lagi ngerjain tugas akhir ya? Siipp.... makasih kang. Sukses juga buat kang Ian...

ReplyTerimakasih sudah berkunjung. Nanti saya berkunjung balik....
The Law Of Attraction...
ReplySikap Kita sangat menentukan, Terkadang Ketakutan-Ketakutan itu menjadi semakin membuat kita tidak siap..
Untuk Itu berfokus kepada Hal yang Positif adalah Kebiasaan Utama sang Pemenang..
Salam kenal mb,
Selamat berkompetisi.
bolehkah saya meminta desain dfd dan erd nya,
Replyagungchrisna@gmail.com
mohon bantuannya